Si Kutu Tante

Januari 2017, bibir bergincu merah tua, dengan kuku berhiaskan kutex pink, kemeja putih yang pas di badan, dan bercelana jeans biru dongker. Dan berambut pendek shaggy yang dibuat tipis. Gaya kan saya? Ini penampilan saya hari ini, menurut saya, saya pikir loh ya mirip sama gaya bu Susi (menteri Kelautan Era Pak Jokowi). Eh tapi, kata temen saya kayak bencong di salon, wuahahahaa…. Tak apa-apa teman, tidak mengurangi jatah kecantikan saya kok hehehehe…

Rambut pendek ini bukan tanpa sebab, sudah dari dulu saya menghindari gaya rambut yang agak macho dan yang berkesan tidak rapi. Dulu, saya kuncir rambut saya yang panjang. Kuncir biasa saja,diikat di bagian bawah rambut, supaya tidak terlalu gerah. Pada suatu waktu itu saya sedang parkir sepeda di pasar, tiba-tiba ada seorang ibu yang bilang ke saya, “bang, permisi ya” katanya sopan. Tapi saya sebel, masak udah tampilan feminim ( rambut panjang, T shirt, bercelana pendek, membawa sepeda) dipanggil abang.  Huuuu… sejak saat itu saya bersumpah akan selalu menjaga rambut saya dari potongan yang tidak feminim, apalagi cepak.

Bulan lalu, sekitar Desember datanglah saudara saya yang menginap di rumah, sekitar seminggu. Saya tidur bersama keponakan-keponakan kecil yang baru saya kenal itu, seru rasanya tidur bareng-bareng. Sudah lama sekali saya tidak tidur bersama saudara sendiri seperti itu. Ternyata oh ternyata mereka juga membawa yang lain, yang tersimpan di kepala mereka. KUTU! Dan sepertinya ada beberapa kutu yang migrasi ke kepala saya. Tanpa saya sadari, kutu-kutu tersebut bertelur dan berkembang dengan bahagia di kepala saya hikss…

Kemudian, pertengahan bulan Desember yang lalu, saya pergi ke Jogja untuk kegiatan dari kantor bersama dengan remaja-remaja tanggung. Kalau saya perhatikan ada beberapa di antara mereka yang juga memelihara kutu di rambutnya. Saya tidak tidur bersama mereka, saya tidur sendiri di kamar yang berbeda. Hingga suatu sore, setelah saya mandi, saya melipat baju bekas saya pakai untuk disimpan di tas ( saya memang rapih ya :-), saya melihat kutu besar dan berwarna hitam di kaos kuning saya. Hiiiiy….sudah lama sekali tidak pernah berhubungan dengan kutu, dan itu ditemukan di baju saya!! Lalu saya tindas itu kutu sampai mati dan gepeng, biar tidak bisa menghisap lagi. Pikiran saya terbang bersama kutu ke anak-anak remaja tanggung itu, wah kutu mereka terbang ke saya. Mungkin harus pakai helm agar tak tertular, pikir saya jahil.

Beberapa waktu kemudian, saya pura-pura sibuk dengan persiapan natal, berbelanja di pusat belanja di dekat rumah. Ketika akan masuk ke dalam toko, saya merasakan gatal di kepala, dengan respon yang luar biasa cepat saya garuk kepala saya, hanya menggaruk seperti biasa, dengan tangan kanan dan saya merasakan nikmatnya menggaruk. Namun, waktu hendak melepas tangan, sepertinya saya merasakan ada benda kecil di kepala saya. Ujung jari telunjuk dan jempol bekerja sama otomatis tanpa perlu diberi aba-aba. Kemudian saya tarik dan tadaaa…..ada kutu besar sekali dari kepala saya. HUWAHHH…  Sampai saat itu saya bingung, bagaimana mungkin ada kutu di kepala saya, hiksss… Kemudian serangan kedua datang, sama seperti pertama kali, hanya menggaruk dan kemudian jari-jari tangan saya melacak adanya binatang tak berizin di kepala saya. Hikss… ada dua kutu besar ditemukan di kepala saya. Ketika hendak memasukkan tangan mencari kutu lagi, adik saya melotot, “heh banyak orang ngliatin tuhh..”heheheh malu juga dia, kakakknya cari kutu di mol.

Berbekal pengalaman itu, saya membeli serit (sisir bergigi rapat khusus untuk mencari kutu atau sisir para putri yang berambut sangat halus), saya seriti rambut saya,, sampai rontok dalam jumlah yang signifikan. Kemudian tidak lupa saya meminta teman untuk mecari kutu-kutu atau telur-telur kutu ( lisa – namanya bagus ya!) tersebut di balik rimba rambut saya ini. Rambut yang dicat ungu di bulan November yang lalu. Lalu saya beli Peditox, sampai terasa panas rambut saya.  Saya ikuti petunjuk dalam kemasan agar tidak salah menuang. Segala upaya telah dicoba, namun masih ditemukan beberapa gelintir lisa di kepala saya. hiksss….jadi gatal kepala ini.

Akhirnya saya menyerah, selamat tinggal rambut panjang (sebahu), saya berganti model rambut dan menjadi seperti bencong salon, personel band alay dan sebagainya…hiks…. semoga cepat tumbuh panjang ya rambutku dan tidak berkutu lagi…..

Tambahan

Cara memusnahkan kutu rambut:

  1. Kata mbak salon yang gunting rambutku, cara membasmi kutu: coba disiram kepalanya dengan Byclean (cairan pemutih baju), lalu bilas dengan air bersih. Saya sih ga mau nyoba, nanti kulit kepala jadi putih juga lagi heheh….
  2. Kata teman di kantor gariskan kapur ajaib Merk Bagus di kulit kepala, diamkan lalu nanti kutu rambut dan telur-telurnya akan rontok semua. Ga saya coba juga, nanti dikira kepala saya sarang semut heheee..
  3. Kata adek di rumah, semprot pake HIT, hihihii.. nyamuk kali..
  4. Ini menurut saya, jemur kepala yang berkutu di bawah sinar matahari (jangan lupa memakai tutup kepala berwarna putih), setelah hampir pingsan kepanasan, buka tutup kepala anda dan lihat apakah ada kutu yang menempel di sana. Agak mirip jemur kutu beras, hehehe…
  5. Masih berkaitan dengan tips nomor 4, sering-seringlah mencatok rambut atau mengeringkan rambut dengan pengering rambut, supaya kutu-kutunya pindah rumah,  siapa yang betah tinggal di kepala panas.. hahahha
  6. Sekian dulu ya, selamat mencoba….

 

17 Jan 2017

Iklan

Nostalgia

dipungut dari Google, trims Goog!
Dipungut dari Google, trims Goog!

Halo, lama sekali saya tidak melongok  blog ini. Hampir tiga tahun tanpa membuka, bahkan hampir lupa kata kunci untuk masuk ke dalam akun saya. Lupa rasanya menulis dengan sepenuh hati, mengumbar kata tanpa ragu ( ini blog saya), lalu menempelnya di diary cyber ini. Ya, diary cyber,  tanpa helaian kertas asli dan tidak terkunci. Siapapun dapat membaca, asal mau dan tahu alamat ini. Ah betul, saya tidak eksis mengiklankan blog ini, hanya seorang dua orang saja yang tahu blog ini. Tidak apa karna saya bukan orang penting juga.

Seorang sahabat menyimpan tulisan lama saya di blog terbarunya, bentuk apresiasinya kepada saya akan tulisan itu, kemudian memberitahu saya. Saya sungguh terharu, meskipun tulisan itu bukan tulisan penting. Tulisan anak muda, hahaha….

Saya klik link yang diberikan, saya membacai tulisan-tulisan lama itu. Kemudian larut dalam barisan masa lalu, tiga empat tahun mundur. Tulisan –tulisan itu bukan tulisan serius, tulisan pendek saja, hal-hal sepele.  Ini mungkin namanya nostalgia.  Hati saya terharu, melihat sosok saya yang ada dalam tulisan tersebut. Energik, penuh semangat, terkadang penuh amarah dan penuh dengan kesalahan tata bahasa sederhana.  Ajaibnya tulisan, ia dapat mengingatkan diri saya, pribadi saya. Terus terang di awal saya membaca, saya merasa tidak mengenal diri saya. Seolah bukan saya yang mengisi blog ini, tapi orang lain yang lebih periang dan tanpa beban.

Tanpa disadari waktu mengubah kita entah menjadi lebih baik, atau tidak bertambah baik. Entah saya ada di golongan pertama atau kedua…..

Sahabat yang saya maksud di atas bernama Ria ‘ririe’ Yulianti, beliau baru saja dianugrahi bayi tampan bernama Keenan. Sayang sekali, saya belum beruntung bertemu dengan Keenan, maafkan saya Riayu. Sebisanya saya akan melesat ke sana, menengok bocah manis itu.

Untuk Kenaan :

“Bayi Keenan yang lucu, selamat lahir di dunia kami. Dunia yang penuh dengan bermacam orang dan setan. Semoga di masa depanmu nanti masih ada bumi yang hijau, air yang bersih, udara jernih dan hati orang-orang baik. Tentunya Tante (^_*), berharap kamu menjadi penerus untuk menjaga bumi kita, meneruskan tradisi budaya timur yang baik, kepada anak cucumu kelak. Tidak lupa untuk terus bertumbuh dan berkembang dengan sehat sesuai dengan usiamu.   Jangan terlalu banyak menonton tivi, terlebih saluran nasional kita yang bobrok. Banyaklah membaca kemudian menulislah untuk kebaikan.”

Sunter, 16 Juni 2015

#di kala hati penat dan otak tersendat#

Menunggu di Bandara,

bndara

Seperti kehidupan itu sendiri, bandara kerap kali diibaratkn sebagai tempat menuggu untuk perjalanan selanjutnya. Tidak penting orang tersebut berasal dari mana, asal mampu membeli tiket maka ia akan terbang ke tempat yang ia mau. Apa iya begitu? Jika diibaratkan kemampuan sesorang membeli tiket didapatkan dari belajar, memhami seluk beluk kehidupan. Tahu “calo” yang bisa menjadi teman atau pesaing.

Sama seperti hidup, kadang kala kita juga mendapati pesawat delay, dengan berbagai alasan. Entah demo pekerja penerbangan, cuaca yang memburuk, bahkan pesawat yang tidak siap atau rusak tiba-tiba. Yap, seperti hidup yang sudah kita rencanakan selalu ada factor lain yang tidak bisa dihindari dan tidak bisa diprediksi. Faktor “x” katanya!

Penerbangan, terbang, pesawat, pilot, pramugari, tamu asing, anak yang baru pulang dari perantauan ah…banyak kali yang bisa dilihat di sini. Cium tangan, pelukan erat, ciuman di kening, episode drama yang riil ada di sini.

21.49 jadwal kepulangannya, sekitar 15 menit lagi tiba. Kami bisa bergegas meninggalkan bandara ini atau berleha-leha menikmati pemadangan ini. Pilih mana? Kalau saya pilih pulang saja, karena lapar mendera, sedangkan harga makanan di bandara bisa untuk empat kali makan. #_#

Terminal 3, 16/7 2013

Komplit!

Komplit!

Apa yang terpikir ketika melihat foto ini? Hemm, saya tersenyum ketika melihatnya. Foto ini diambil di wisma Salesian Don Bosco, Sunter. Ada hubungan yang cukup mesra antara patung dan tas yang menumpuk di bawahnya. Komplit rasanya ^_^!

Kopi dari FB

Stefani Ruri pada 30 Agustus 2009 pukul 23:34 ·

Lembaga pendidikan formal yang biasa kita sebut sekolah kini tidak pede (percaya diri ) lagi. Ya, sekolah yang dipercaya oleh para orangtua, dengan menitipkan anak –anaknya, untuk menimba ilmu. Bahkan sekolah negeri sekalipun. Sekolah kini sedang puber , benar – benar tidak pede dalam mempersiapkan anak didiknya menghadapi UAN, ujian akhir ataupun ujian masuk perguruan tinggi. Memangnya kenapa? Begini ceritanya….
Siapa sih yang tidak tahu bimbel alias bimbingan belajar? Pada awalnya bimbingan belajar diberikan kepada anak yang memiliki kekurangan dalam menyerap pelajaran di dalam kelas, sehingga dibukalah bimbingan belajar di luar jam sekolah. Dan yang memberikan pelajaran tambahan bisa guru kelas atau ikut pada lembaga bimbingan belajar di luar sekolah.
Seiring dengan ditetapkannya nilai minimal untuk lulus, maka banyak orang yang khawatir dan merasa kurang sehingga memasukkan anak – anaknya ke lembaga bimbel untuk mencukupi kebutuhan akan pemenuhan nilai standar untuk lulus. Seperti pepatah ada gula ada semut, bermunculanlah lembaga bimbel dimana – mana. Mulai dari yang ecek-ecek sampai ternama. Semuanya menawarkan kelulusan seratus persen atau uang kembali. Hampir semuanya menawarkan metode smart solution alias cara cepat untuk menjawab soal dengan tepat. Waktu yang diberikan cukup intensif, mulai dari seminggu dua kali sampai setiap hari selama kurang lebih 3 bulan.
Waww…mengagumkan!! Lembaga sekolah yang handal dan terpercaya, yang telah mendidik min 3 tahun pada hasil akhirnya mengandalkan lembaga cepat tepat dalam waktu 3 bulan. Entah karena strategi marketing lembaga bimbel yang bagus sehingga sekolah terpedaya dan memberikan peserta didiknya untuk persiapan akhir menjelang ujian. Dan parahnya seluruh murid wajib ikut. Tidak masalah jika orangtua murid mampu, jika tidak? Murid tidak bisa mengikuti rangkaian ujian akhir.
Bahhh macam mana ini? Mau jadi apakah sekolah jaman sekarang? Sekolah formal yang sudah diharapkan memberikan bekal ilmu untuk masa depan, malah menggantungkan harapannya kepada lembaga bimbel.
Pada dasarnya lembaga pendidikan non formal diberikan untuk memenuhi tiga fungsi yaitu : pelengkap, penambah, pengganti pendidikan formal (sekolah). Kenapa sekarang jadi terbalik sih?? Kalo begitu biarkan saja lembaga bimbel yang mengeluarkan ijasah dan bukan dari sekolah.
Untuk mengikuti bimbel murid diwajibkan membayar biaya tambahan sebesar delapan ratus ribu rupiah. Jumlah yang besar untuk keluarga dengan pendapatan UMR. Haahhh……………..kalo begini kepada siapa mengadu? sekolah umum yang diharapkan bisa lebih meringankan beban orangtua malah tidak bisa diharapkan…hufftt………. kasiaaannnn…………..

Cerita Sebelum Tidur

Image

Pagi tadi, seusai mengarungi bagian timur Jakarta. Masuk ke dalam kelas hiruk pikuk yang diisi oleh 12 bocah. Mereka seperti terbang, lalu lalang di mukaku. Menggelinding dan menyapaku ramah, Ibu guruuu…. ah anak, saya jadi malu.Berperang dengan bola, membuat beberapa anak menangis. Kepada anak yang menangis “Shhh..cep cep…sudah ya jangan menangis lagi”, kepada yang membuat menagis “ayo minta maaf !”

Kuhiraukan beberapa panggilan di muka telepon genggamku, Dan kemudian kelas berganti, masuklah bocah terbang selanjutnya. Sama seperti tadi, hanya saja  yang ini lebih mungil. Bermain warna, bertanya ini itu, dan tetap saja berterbangan kesana kemari.

Kelas berakhir, kutelusuri lagi anak-anakku yang lebih besar dan terserak di komunitas itu.

Puji : saya nyesel kak sekolah di situ, bikin saya gak ngerti dan bingung.

Aku : lalu, rencanamu mau lanjut kemana?

Puji : ke SMK XYZ kak

Aku : loh? kok gak pilih negeri?

Puji : enggak mau ah, aku kan maunya STM

Aku : makanya cari tahu yang banyak ya Ji, SMK itu ada yang STM dan sebagian besar muridnya lelaki. heheee…

Puji : oh, gitu ya kak

Sekelumit percakapan dengan Puji, anak baik yang kurang mendapatkan informasi mengenai pendidikannya. Hanya beberapa yang bisa kutemui, selanjutnya mungkin lain kali.